Catatan Hari 2 : Instrumen Kepemimpinan

 --Instrumen Kepemimpinan--

    Sedikit perjalanan setelah melewati hari-hari tentang mengikuti ambisi dalam akademik membawaku sempat menghilang dari komitmen atas diriku untuk mau belajar "menyayangi" diri sendiri. Sekali ini, aku diberikan kesempatan untuk kembali berkaca atas semua yang terjadi... 

    Sejujurnya, hari ini aku menjalani hari seperti love-hate relationship, setelah melewati tahap interview yang sebenarnya aku sudah diberitahu dari jauh hari tetapi aku sendiri seperti malah meremehkan dan melupakan persiapan interview... sampailah aku tiba-tiba interview hari ini, setelah mempersiapkan banyak persiapan dan menyiapkan banyak pertanyaan, aku malah blunder dan kurang fokus serta gugup saat menjalani interview. Aku kurang fokus adalam menjawab pertanyaan dan terkesan malah banyak buang-buang waktu saat interview, aku runtuh setelah diberi masukkan bahwa aku gugup, padahal aku sudah mempersiapkannya, meskipun kurang tetapi sejujurnya cukup bete dengan yang terjadi. Namun, setelah menjalani hari-hari itu aku hanya berdoa agar diberikan yang terbaik dari Tuhan. Tetapi hal yang pasti ingin aku kejar sekarang, semakin lebih dekat dengan Tuhan, agar aku tidak jatuh kedalam pencobaan atas ego dan ambisi diriku. Meskipun akhirnya tetap kepikiran, aku sepertinya sudah berserah dan membiarkan agar Tuhan yang memberikan yang terbaik bagi diriku. Menjalani seluruh hari-hari, aku menyadari Tuhan terus mendewasakan diriku dalam banyak hal. 

    Kedewasaan yang terus bertumbuh membuatku belajar dan menyadari bahwa kemampuan komunikasi dalam diriku masih cukup kurang, hari ini aku diberi kontemplasi atas diriku sendiri, yang ternyata menyadarkan bahwa aku sangat buruk dalam hal komunikasi. terkadang terdapat miskomunikasi baik dari kerja tim dan prakonsep terkadang dalam bekerjasama yang ternyata hal tersebut mempengaruhi dalam hal komunikasi to delivery mimpi besar yang aku miliki. Akhirnya, aku sadar bahwa instrumen kepemimpinan yang sangat penting dan serba guna adalah komunikasi, hal tersebut memegang peranan dalam menjadi instrumen yang dapat menjatuhkan kepemimpinan. alhasil aku berusaha untuk belajar How do you deliver your vision to them? . Pertanyaan tersebut membawaku untuk belajar lebih dari banyak orang untuk dapat memimpin sesuatu, terdapat hal-hal baru yang aku pelajari yaitu : Tetaplah konsisten, ketika kita yakin terhadap suatu hal yang dibangun atas "Kearifan" dan naluri hati membawa kita untuk dapat memutuskan sesuatu. Gordon Bethune memperoleh dukungan tim ketika memimpin continental airlines karena konsistensi komunikasinya. Berkomunikasilah dengan jelas, tim akan dapat berjalan dan melaksanakan rencana apabila tahu apa misi yang kita inginkan, ketika kita jujur terhadap diri sendiri terhadap mimpi yang akan saya bawakan. Jagalah Kesopanan, setiap orang harus diperlakukan dengan layak dan santun, apapun posisi orang dan siapapun dia, cara berkomunikasi dan memandang seseorang untuk pardigma sesuatu akan membawa kita untuk dapat merespect seseorang. 

Atas dasar hal tersebut saya memutuskan untuk mencari jawaban dengan melakukan transfer knowledge dengan banyak orang untuk belajar komunikasi yang baik dan menciptakan keselarasan interaksi diantara satu tim. Sebuah tim merupakan cerminan dari pemimpinnya, menjadi seorang pemimpin bukan tentang gaya satu arah melainkan tentang mendengar, mengajak dan mendorong partisipasi tim 

Comments