Jadi biasa-biasa saja

 "Kalau bisa yang lain, kenapa harus aku?"

Itulah kalimat yang selalu kuucapkan belakangan ini, bukan karena aku malas untuk mengerjakan sesuatu, sejujur-jujurnya ya malas aja sih. 

Tapi lebih ke, aku hanya ingin menikmati momen-momen itu, tanpa berkutat dengan pikiranku yang selalu berisik setiap harinya, berisik entah darimana kebisingan itu menganggu kesunyian dalam diriku, tapi yang pasti aku hanya ingin tenang. 

Mungkin itu cukup klise untuk menggambarkan kehidupanku 2 hari kebelakang ini, tapi ada 1 hal yang aku sadari tetapi aku tidak tahu apakah ini hal yang baik dan benar? atau ternyata malah sebaliknya? aku kembali dalam kegelapan yang pernah mencuri-ku dari kebahagiaan sekitarku hanya karena 1 manusia.  

Tidak ada ambisi apapun dalam diriku untuk mengejar sesuatu, apapun itu dalam dunia karir. Hal itulah yang mendorong diriku untuk hanya menikmati momen-momen, menghargai waktu, serta menikmati apa arti empati dalam kehidupan. tapi sebaliknya itu membuatku untuk tidak mau mencoba sesuatu yang mengeluarkan effort, membuatku untuk menahan segala rasa haus untuk mengejar kemenangan dan keberhasilan, dan kehilangan setiap momentum untuk meningkatkan personal branding dalam diriku. 

Dalam pandanganku, sebenarnya aku merasa tidak terbelakang meskipun aku hanya biasa-biasa saja, dalam keadaan saat ini, aku akan berusaha ketika diminta. ketika tidak diminta, maka aku akan bersikap biasa-biasa saja. Karena entah bagiku, semua penghargaan dan keberhasilan tersebut hanya ilusi ego yang diciptakan oleh remaja untuk bisa memvalidasi dirinya bahwa mereka keren. entah sekarang itu bukan apa-apa bagiku, karena menurutku itu tidak ada apa-apanya ketika kita beneran hidup di real-life, tapi yang cukup dilema dalam diriku adalah ternayat seluruh penghargaan tersebut menciptakan peluang-peluang lain dalam dirinya.

Tapi yang menarik adalah aku menemukan sedikit rasa ambisi dan ketertarikan untuk mengejar wanita yang kusuka, tetapi dilema dalam diriku yang terus bergejolak, bagaimana ketika ternyata aku mendekatinya ketika hanya tidak baik-baik saja, atau bagaimana ketika ini cinta yang terlalu cepat untuk sedikit cinta serius yang kulihat di masa depan... 

Jujur aku tidak tahu harus berbuat apa, entah, mungkin 2 hari ini belum kuceritakan semuanya, tetapi seluruh inti cerita 2 hari itu ada dalam seluruh paragraf diatas. 

"Mungkin" memang aku harus mendengar the overtunes dengan segala cerita cintanya... 

"Maybe We Should try?"

hari ini sudah akan berlalu, tapi setiap rasa dari malam ini akan kunikmati dalam setiap tulisan yang kuciptakan

Comments