Aku harus apa?
30 Maret 2026, ditengah keheningan malam dan gemerlap lampu kota menerjang, hari dimana aku yang banyak hanya memandang dengan mata kosong dan bingung dengan apa yang terjadi, tanpa dia, tanpa teman, dan tanpa keluarga, hanya Tuhan tempat-ku terus mengadu. Sepanjang waktu yang terus ku memikirkan tentang "apa yang seharusnya aku lakukan?" terus ku bertanya kepada Tuhan. Aku bingung Tuhan...
sebenarnya aku hanya ingin menulis ini tanpa tujuan, tetapi kuingat bahwa mungkin nanti dia akan bertanya tentang apa yang kulalui hari ini..., hari ini kujalani dengan rasa hampa yangs sama dengan kurasakan 4 tahun lalu (ya sejujurnya aku takut)... bangun dengan perasaan kosong, tanpa tujuan, dan bingung dengan apa yang kurasakan, tanpa dia. aku memulai hari dengan terus mendengar spotify tempat ku menaruh perasaan ku saat aku belum bisa bercerita dan menulis, tempat ku hanya terus bertanya dan mendengar. seharian pun aku menjalani meskipun dengan komitmen dengan serius dengan banyak agenda pekerjaan yang kulalui, tetapi tetap saja pikiran itu terus ada dalam benak pikiranku, terus ku berlari dengan hanya mendengar lagu tetapi tetap tidak bisa. Ku terus bengong hanya memandang langit dan berjalan... tetapi naasnya aku diserempet mobil (kupikir badanku tidak apa-apa, ternyata apa-apa).
Sampai malam berganti, aku masih bingung "apa yang harus aku lakukan?". Satu hari aku terus berkontemplase, aku tidak paham harus seperti apa dan bagaimana. Banyak gejolak dan dilema dalam hatiku yang terus membuat aku bingung dan harus seperti apa... Sejujurnya sebagai seorang manusia, aku merasa ada rasa kecewa yang timbul dalam hatiku dengan banyak hal yang aku sudah aku tahu. aku tidak tahu dan paham apakah ini hal yang benar atau ini hanya ego dalam diriku yaang muncul..., kupikir aku sudah mengosongkan ego dalam hati-ku tetapi ternyata masih ada ego dalam hatiku tentang prinsip-prinsip dalam hubungan. Itulah mungkin mengapa aku masih bingung apa yang harus aku lakukan..., ternyata aku masih memiliki prinsip-prinsip yang kupegang untuk menjalani hubungan. Mungkin hal ini yang membuat masalah ini semakin kompleks..., maaf apabila aku tidak dapat mencintaimu dengan sederhana dan apa adannya, tetapi ku sadar aku pun butuh untuk merasa dicintai. aku sadar dalam hubungan, cinta mungkin akan habis, tetapi yang kuyakini bahwa hubungan layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan ketika aku masih menemukan alasan untuk hubungan itu dipertahankan dan diperjuangkan, ketika alasan itu selalu ada dan tetap terus dibentuk bahkan ketika alasan sudah tidak ada, disitulah pertumbuhan dalam cinta itu ada. Ketika kita sama-sama mau memahami dan berkompromi dengan apa yang sedang kita hadapi sebagai seorang pasangan.
Aku terus mencari apa alasan kenapa aku terus bingung dan belum memutuskan? Jujur memang banyak hal yang membuat ku ragu... tentang hal-hal yang aku memang tidak mau dalam pasanganku. Mungkin ini ego dalam diriku ketika aku mau bahwa pasanganku tidak merokok baik rokok dan sejenisnya dalam bentuk apapun itu. aku sangat tidak suka wanita yang merokok..., jujur pun aku takut dengan masa lalu yang pernah menghantuinya, ketika dia memilih untuk meninggalkan pasangannya dan membuka hati untuk yang baru yang lebih menarik di saat yang hampir bersamaan, aku tidak paham tentang apakah ini salah, tapi jujur aku takut. Aku merasa defensif dengan merasa bahwa aku insecure karena selalu ada yang lebih baik dan menarik dariku baginya dalam perjalanan waktu tersebut, dan aku lebih memilih untuk berhati-hati untuk mencobanya karena takut melaluinya. Karena apa yang telah kusadari bahwa selalu ada yang lebih baik dan menarik dalam perjalanan hidup kita, tetapi rasa "cukup" dari alasan-alasan untuk kita tetap bertahan dengan dia adalah kunci untuk tetap mencintai. Mungkin setiap orang memiliki prinsip berbeda, tetapi aku berjalan dengan prinsip itu..., Karena komitmen adalah Pilihan, Bukan Perasaan. Tentang yang lain yang baru kuketahui tentang hidupnya yang sejujurnya membuat aku kecewa, saat ku mendengarnya aku sangat benci dengan kejadiannya, aku benar-benar tidak paham tentang mengapa hal itu bisa terjadi pada masa lalunya..., aku terus mempertanyakan tentang penyebab yang menjadi alasan hal itu terjadi? tetapi terus ku bertanya hingga ku terdiam dan berpikir apakah itu memang cukup untuk membantu ku keluar dari rasa bingung itu? atau itu hanya ego semata untuk aku menyalahkan sesuatu sampai aku lupa bahwa alasan dan niat dia untuk jujur tentang masa lalunya... terdiam ku sejenak dan kusadari bahwa tidak ada alasan bagi ku untuk tidak memaafkannya, karena Tuhan sendiri pun telah memaafkan-ku. Aku memang ada sedikit rasa kecewa tetapi itu semua adalah masa lalunya, masa lalu yang akan tetap menjadi miliknya. Sekarang, dia telah menjadi dia yang apa adanya adalah dia, dia yang seorang wanita yang tentu memiliki ego dan gengsi untuk terlihat sempurna tetapi dia lebih memilih untuk jujur tentang masa lalunya, menelanjangi dirinya dengan segala rasa rendah diri dalam dirinya dengan mengambil risiko kehilangan hubungan ini. Kejujuran yang membutuhkan keberanian besar untuk bisa mengatakannya terhadap seseorang yang mungkin sangat dia sayang dengan memilih kehilangan orang yang dia sayang daripada menipunya. Mungkin berat baginya dengan segala perasaan yang dia hadapi, rasa sayang yang begitu dalam untuk menjaga dan menghormati pasangannya dengan dia pengorbanan dirinya untuk ditinggalkan. Aku sangat mengangumi cara dia mencintai pasangannya...
Dan dari sejuta dilema yang telah kuhadapi, aku sadar bahwa kebingungan itu tercipta ketika masih ada alasan kuat yang ada pada dirinya dibanding masa lalunya, tetapi ku sadar bahwa masa lalu meninggalkan bekas dalam diri setiap kita, entah bagaimana cara kita nantinya menghadapinya. ku sadar bahwa mungkin masih banyak luka yang masih ada pada dirinya dan yang harus dia lalui, butuh proses untuk kompromi 100% dengan perasaan itu, aku sendiri pun tidak akan bisa untuk menyembuhkannya, yang ku bisa hanya sebatas menemani tetapi kembali semua pada dirinya yang menghadapinya. Aku mencintai dan menyayanginya, tetapi dia masih butuh waktu untuk pulih dengan dirinya, dan semua akan kembali pada dirinya, tak ada alasan untuk kami cepat-cepat dalam memutuskan arah untuk hubungan romantis bahkan meskipun kami saling mencintai dan menyayangi, karena hanya menimbulkan luka dan ketidaksetaraan dalam cinta ketika kami masih belum benar-benar selesai dan kompromi satu sama lain.
Should I stay or shound I go?
Kita masih butuh untuk menemukan alasan untuk kita saling mencintai.
Comments
Post a Comment