Posts

Jadi biasa-biasa saja

 "Kalau bisa yang lain, kenapa harus aku?" Itulah kalimat yang selalu kuucapkan belakangan ini, bukan karena aku malas untuk mengerjakan sesuatu, sejujur-jujurnya ya malas aja sih.  Tapi lebih ke, aku hanya ingin menikmati momen-momen itu, tanpa berkutat dengan pikiranku yang selalu berisik setiap harinya, berisik entah darimana kebisingan itu menganggu kesunyian dalam diriku, tapi yang pasti aku hanya ingin tenang.  Mungkin itu cukup klise untuk menggambarkan kehidupanku 2 hari kebelakang ini, tapi ada 1 hal yang aku sadari tetapi aku tidak tahu apakah ini hal yang baik dan benar? atau ternyata malah sebaliknya? aku kembali dalam kegelapan yang pernah mencuri-ku dari kebahagiaan sekitarku hanya karena 1 manusia.   Tidak ada ambisi apapun dalam diriku untuk mengejar sesuatu, apapun itu dalam dunia karir. Hal itulah yang mendorong diriku untuk hanya menikmati momen-momen, menghargai waktu, serta menikmati apa arti empati dalam kehidupan. tapi sebaliknya itu membu...

Catatan Hari 2.5 : Semangat Api

 -- Semangat Api --       Sekali ini aku berjalan dalam gelapnya malam, tenggelam ku di dalam perenungan terhadap hidup ini, aku berjalan hanya mengerjakan tuntutan "Dunia" untuk kukerjakan, namun setelah itu terdapat waktu untuk ku memilih semakin dengan keluarga. Aku bercakap dengan Among di bawah langit malam dengan terang bulan yang sama, aku diberi among video tentang beasiswa (tidak tanpa konteks, karena aku memberitahu bahwa aku akan interview beasiswa) Sejujurnya sudah lewat karena sedari pagi tadi aku sudah interview, tetapi yang cukup membuat-ku merenung bahwa di saat tengah malam, among masih berpikir tentang kebutuhan-ku, mungkin among bingung apa yang bisa dia bantu atau apa yang bisa dia berikan untuk mendukung anaknya tetapi hal sekecil untuk belajar dan mencari tahu tentang kebutuhan anaknya adalah Hal yang benar-benar menyadarkan-ku bahwa aku memiliki dua cahaya matahari yang harus aku perjuangkan... bukan tanpa alasan, aku ada saat ini "menjadi...

Catatan Hari 2 : Instrumen Kepemimpinan

 --Instrumen Kepemimpinan--      Sedikit perjalanan setelah melewati hari-hari tentang mengikuti ambisi dalam akademik membawaku sempat menghilang dari komitmen atas diriku untuk mau belajar "menyayangi" diri sendiri. Sekali ini, aku diberikan kesempatan untuk kembali berkaca atas semua yang terjadi...      Sejujurnya, hari ini aku menjalani hari seperti love-hate relationship, setelah melewati tahap interview yang sebenarnya aku sudah diberitahu dari jauh hari tetapi aku sendiri seperti malah meremehkan dan melupakan persiapan interview... sampailah aku tiba-tiba interview hari ini, setelah mempersiapkan banyak persiapan dan menyiapkan banyak pertanyaan, aku malah blunder dan kurang fokus serta gugup saat menjalani interview. Aku kurang fokus adalam menjawab pertanyaan dan terkesan malah banyak buang-buang waktu saat interview, aku runtuh setelah diberi masukkan bahwa aku gugup, padahal aku sudah mempersiapkannya, meskipun kurang tetapi sejujurnya cuk...

Catatan Harian 1 : Bereskan Hal Kecil Lebih Dahulu

-- Bereskan Hal Besar Kecil Lebih Dahulu --           Setelah sekian purnama melewati banyak peristiwa yang aku lalui, banyak pelajaran yang membuat aku sadar, bahwa kadang ambisiku yang terlalu besar membawaku untuk terus mengejar hal-hal negatif   positif tetapi membuatku terjatuh dan melewati  banyak hal berharga dalam hidupku. Kadang, setelah banyak hal berharga tersebut terlewati oleh ku membuat-ku menyesal akan banyak hal. Kadang aku menyalahkan diriku, bahkan ternyata membuat aku kehilangan diriku? . Setiap rangkaian peristiwa tersebut ternyata bukan tanpa sebab Tuhan berikan hal tersebut terjadi atas diriku, Tuhan membangun kecerdasan intrapersonal dan eksistensial dalam diriku begitu banyak yang kini membuat aku sadar untuk Belajar Menjadi Manusia. Sejujurnya, aku tidak tahu apa itu manusia dan apa itu belajar menjadi manusia , hanya sedikit kontempelasi diri di bawah langit malam di ujung timur nusantara. Aku hanya sejenak menyimpu...

Apa Mau Aku?

Sejenak berpikir tentang apa yang sebenarnya aku mau, entah kapan terakhir kali aku berpikir tentang mimpi, tentang sesuatu yang aku kejar. selama ini aku hanya diarahkan oleh sesuatu untuk membentuk karir dan apa yang sebenarnya mungkin belum tentu aku mau. Apakah diumur 19 tahun adalah waktu yang tepat atau telat untuk memikirkan mimpiku itu?  Mari kita coba lihat dari kapan aku mulai memiliki sebuah mimpi, kembali ke masa saat aku kecil saat aku menempuh sekolah dasar, aku memiliki mimpi untuk menjadi sebuah presiden, tanpa tujuan lain hanya ingin menjadi presiden, jujur memang masih kecil dan tidak tahu harus apa, tetapi di impian itu aku bermimpi bahwa aku bisa memimpin sesuatu hal dan bisa membuat perubahan untuk menjadi lebih baik.  Naik ke masa aku menempuh sekolah menengah pertama, aku mulai berpikir jikalau jadi presiden, aku harus apa dan harus bagaimana, ada banyak orang yang mulai mempertanyakan dan meragukan apakah seorang diriku bisa menjadi presiden? tetapi tak...

Semangat!

Malam Ini Kian sunyi senyap menemani,Hanya rembulan yang hadir, Menutup Hari dengan Sesuatu yang menyangkut diri dan mimpi, sesuatu yang diinginkan hati dan pikiran untuk menuangkan semuanya untuk waktu yang kian untuk ditempuh...  Semesta, Malaikat itu kini sedang bingung Kemana kian dia harus terbang Apakah Menyusuri langit atau Bumi? Meneruskan Mimpi untuk langit, atau meniti karir untuk Bumi  Waktu kian berlalu... Kini Dirinya harus memantapkan hati dan pikiran Dilema terus menyusuri Ketakutan dan keraguan kian mendekapi Nurani dan Naluri akan membawa dia kemana? Aku Mungkin Manusia biasa di Bumi Hanya mendengar sangkakalanya sudah Membuatku senang Kuharap aku dapat menemani dia untuk memantapkan hatinya Kutahu aku tidak bisa membantu apa-apa Tapi kuharap dia dapat memilih yang terbaik untuk dirinya Terbaik untuk mimpinya Terbaik untuk masa depannya Dan Terbaik untuk kehidupannya Tuhan kuharap kau bantu dia memutuskannya Kutitipkan Doaku untuknya Bantulah dia memantapkan s...

Aku

 Sekali ini aku berpikir tentang kasih sayang, kosong tak pernah seingatku ada rasa yang pernah kurasakan, ku kilas balik semua dimalam ini, merenung sendiri dalam malam, memikirkan diri dan hati ternyata hanya aku sendiri... Sejak Sekolah Dasar tak pernah seorang pun hadir hanya menemani, semua hanya datang karena kekaguman dan kepintaran yang kumiliki... Menanjak ke tempatku menengah pertama, hanya ada 1 wanita seorang guru yang benar-benar bisa membuatku merasa aku ada, aku disayang dan aku dicintai, tanpa memikirkan aku pintar, aku bodoh, atau tingkah laku apapun, tentang aku yang pernah menentang sekolah, tentang aku yang tidak mau belajar saat UAS dan aku yang membela teman-teman ku yang disingkirkan, dia hanya tertawa melihat semua tingkah laku ku Namun Hanya dia, tidak lebih dan tidak kurang, bahkan semua temanku ada hanya saat aku berguna dan hanya saat kepintaran ku ada. Aku benci pikiran ku, aku benci kecerdasan yang membuatku hanya dimanfaatkan... Aku belajar hanya untu...